I K L A N

Dua Perwira Perempuan, Satu Visi: Pengabdian Mayjen Naomi C. McAlyster & Gricella O. Prakasa

17 Nov 2025
INSPIRASI

Indopride Media Inc — Di balik tugas kepolisian yang penuh risiko, terdapat individu-individu yang dibentuk melalui perjalanan hidup yang penuh tantangan. Mayjen Naomi C. McAlyster dan Mayjen Gricella O. Prakasa adalah dua contoh nyata bahwa pengabdian lahir dari keteguhan hati dan bukan keberuntungan semata. Kedua perwira ini datang dari latar belakang yang berbeda, menjalani proses yang tidak mudah, namun justru pengalaman-pengalaman tersebut yang mematangkan naluri, kedisiplinan, dan kompas moral mereka sebagai penegak hukum. Kisah mereka menggambarkan bahwa menjadi polisi bukan hanya soal mengenakan seragam, tetapi menjalani komitmen untuk hadir bagi masyarakat bahkan dalam kondisi paling menantang.

Perjalanan Hidup dan Awal Masuk Kepolisian

Naomi Isadora L Castelano memulai hidupnya di kota besar tanpa ada tempat bergantung. Dalam kesendiriannya, ia bertemu dengan keluarga angkat yang membantunya memahami arti kemandirian. Sebelum terjun ke dunia kepolisian, Naomi menjalani berbagai pekerjaan fisik seperti bertani, menambang, hingga menjahit. Pengalaman-pengalaman ini membentuknya menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah dan terbiasa bekerja keras dalam tekanan. Meski sempat tertarik dengan dunia medis, Naomi merasakan panggilan hatinya untuk berkarier di kepolisian, khususnya dalam tugas yang langsung berinteraksi dengan masyarakat. Pada Agustus 2024, ia berhasil diterima sebagai Kadop Angkatan 49 Poltas, menandai awal perjalanan kariernya sebagai Polisi Lalu Lintas.

Gricella O. Prakasa, yang tumbuh dalam lingkungan yang jauh dari dunia kepolisian, menghabiskan masa remajanya dengan bekerja keras. Ia memulai karier dengan magang di Ywicafe , kemudian dimutasi ke Ywigarage dan diangkat menjadi mekanik. Pengalaman bekerja sejak muda membuatnya terbiasa dengan disiplin, kemandirian, dan ketangguhan fisik. Namun, impian untuk menjadi polisi telah ada dalam dirinya sejak kecil. Ketertarikannya muncul kembali pada Mei 2024, setelah melihat informasi lowongan kepolisian di sebuah forum. Ia kemudian mendaftar untuk Angkatan 52 bersama sekitar 80 peserta lainnya dan berhasil lolos, hingga akhirnya terpilih sebagai Kadop Angkatan 52. Langkah ini menjadi titik awal perjalanan Gricella memasuki dunia kepolisian sipil (Polsip).

Dedikasi dan Tantangan di Dunia Kepolisian

Setelah memulai tugasnya, Naomi menyadari bahwa dunia kepolisian tidak hanya soal kedisiplinan, tetapi juga tentang keberanian menghadapi situasi yang tidak terduga. Sebagai Polisi Lalu Lintas, ia tidak hanya mengatur arus kendaraan, tetapi juga menjaga keselamatan publik di wilayah yang selalu dinamis. Salah satu pengalaman terberat baginya terjadi ketika ia ditusuk oleh sekelompok orang setelah menegur parkir liar. Kejadian ini tidak hanya membuktikan betapa berisikonya tugas seorang polisi di lapangan, tetapi juga menguatkan tekadnya untuk tetap melindungi masyarakat tanpa rasa gentar.

Sementara itu, Gricella sejak bergabung dengan Polsip, memikul tanggung jawab yang tidak ringan. Salah satu tantangan terbesarnya adalah kemampuan memimpin dan mengambil keputusan cepat saat berada di garis depan. Sebagai komando dalam beberapa situasi penanganan, ia harus memastikan koordinasi tim berjalan tepat, menentukan prioritas tindakan, serta menjaga keselamatan anggota dan warga. Peran ini menuntut ketegasan, ketenangan, dan kecermatan—tiga hal yang perlahan ia asah melalui pengalaman langsung di lapangan.

Visi, Misi, dan Pesan untuk Warga

Naomi memiliki visi besar untuk sektor lalu lintas, berfokus pada ketertiban sebagai pilar utama keselamatan. Ia menekankan pentingnya disiplin warga dalam menaati aturan, menghindari parkir sembarangan, melengkapi surat-surat, serta memanfaatkan layanan resmi seperti Samsat. Baginya, tatanan kota yang aman dimulai dari kepatuhan terhadap hal-hal dasar yang sering diabaikan.

Di sisi lain, Gricella memprioritaskan penguatan patroli sebagai salah satu cara untuk menekan angka kriminalitas. Ia melihat bahwa kehadiran polisi di titik rawan dapat memberikan rasa aman sekaligus mempercepat respon ketika insiden terjadi. Ia juga menyoroti kebiasaan warga yang sering terlambat melapor, yang membuat penanganan kasus menjadi lebih sulit. “Biasanya warga baru lapor dua hari setelah kejadian. Padahal laporan cepat sangat krusial,” ujarnya. Gricella mendorong masyarakat untuk lebih proaktif dan tidak ragu menghubungi pihak kepolisian secepat mungkin.

Ketika ditanya tiga kata yang mewakili dirinya, Gricella menjawab dengan lugas: “Penanganan, penanganan, penanganan.” Sebuah prinsip sederhana, namun mencerminkan totalitasnya dalam mengabdi. Kisah Naomi dan Gricella menunjukkan bahwa dalam dunia kepolisian, tidak ada yang datang dengan mudah. Pengalaman hidup yang penuh tantangan, ditambah dengan komitmen dan dedikasi mereka, telah membentuk mereka menjadi sosok yang tidak hanya memegang kekuasaan, tetapi juga mengemban tanggung jawab besar terhadap masyarakat. Mereka adalah contoh nyata bahwa pengabdian sejati lahir dari keteguhan hati dan niat untuk melayani, bahkan dalam situasi yang paling menantang sekalipun.

(Red/Albert W Wyasa, Lana Asha)
Journalist: Albert & Lana
Thumbnail: Bahar
Editor: Bahar


Komentar (0)


Tidak Ada Komentar

IKLAN